Rabu, 04 Desember 2013

Berlibur ke Pulau Sempu

Pagi itu matahari enggan menyapa. Awal musim penghujan agaknya. Tak mendung. Hanya sedikit berawan dan biasanya akan cerah saat agak siangan lalu hujan pada sore harinya. Hal ini tak mengurungkan niat saya dan teman-teman untuk pergi berlibur. Tempat wisata yang saya kunjungi kali ini dapat ditempuh lima jam perjalanan dengan menggunakan mobil pribadi. Berangkat sekitar pukul tiga dini hari dari Surabaya, rombongan saya telah siap meluncur ke sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah selatan Pulau Jawa, tepatnya di Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Pulau Sempu merupakan pulau kecil yang letaknya berbatasan dengan Selat Sempu (Sendang Biru) yang dikepung Samudera Hindia di sisi selatan, timur dan barat. Ada juga yang menyebutnya sebagai serpihan surga yang ada di Bumi. Pulau ini dapat ditempuh dari Kota Malang melalui Pantai Sendang Biru, lalu menyeberang menggunakan perahu nelayan, dengan perizinan dari Dinas Kehutanan Pulau Sempu terlebih dahulu. Sebelumnya di sini, saya dan teman-teman diberikan sedikit pengarahan tentang safety riding dalam perjalanan yang akan ditempuh untuk menuju mata air pulau tersebut. Sebuah mata air yang disebut segara anakan karena mata airnya yang asin dan dikelilingi oleh tebing yang indah. Rombongan saya kebetulan banyak wanitanya sehingga kami memakai jasa seorang guide. Biaya yang dibutuhkan untuk menyewa seorang guide ini sebesar seratus ribu rupiah. Sedangkan biaya untuk perahu penyeberang tadi sebesar seratus ribu rupiah untuk pulang pergi.

Saat itu, kami hanya membawa perbekalan dan air mineral secukupnya saja karena tidak berniat untuk menginap di sana. Mungkin bagi kalian yang ingin menginap, semacam membuat tenda, ada baiknya membawa persediaan air mineral lebih banyak dan bekal yang cukup. Nah, bicara soal  safety riding, saya sarankan kalian memakai sepatu khusus jika ingin pergi ke sana. Sepatu ini akan mempermudah kalian berjalan melewati medan yang sangat licin dan becek saat musim penghujan. Kalian bisa menyewanya tepat di dekat pos Dinas Kehutanan Pulau Sempu seharga dua puluh lima ribu rupiah. Saya bersama rombongan enggan menyewa saat itu. Biasalah... Berniat irit tapi malah mempersulit diri sendiri saat perjalanan. Waktu tempuh perjalanan yang dibutuhkan sekitar dua jam dengan berjalan kaki. Sementara kami melewatinya dengan 2,5 jam perjalanan akibat berjalan tanpa memakai alas kaki. Hal ini terjadi karena sandal kami semakin bertambah ketebalannya akibat dari tanah liat yang menempel. Hasilnya, kami terpeleset berkali-kali saat berjalan tanpa alas kaki. Lumayan seru. Eits... Jangan ditiru untuk yang berjalan tanpa alas kaki ini dan tetap harus hati-hati ya!!! Saat berjalan tanpa alas kaki, kalian bisa saja menginjak ranting berduri yang bisa menancap di kaki ataupun tak sengaja menginjak hewan seperti kalajengking, kelabang dan yang lainnya yang bisa membahayakan kita. Jadi utamakan keselamatan diri kalian saat mengadakan petualangan seperti ini. 

Pulau Sempu merupakan kawasan cagar alam yang dilindungi oleh pemerintah. Hutannya masih asri dan tak terjamah tangan manusia. Di sini juga nyaris tidak ditemukan mata air payau. Jadi, kalian tak perlu khawatir adanya binatang buas seperti buaya karena itu hanya ada di mata air payau. Setelah melewati jalan yang berliku, kelelahan saya dan teman-teman pun terbayarkan oleh hamparan pasir putih dan birunya air laut dari segara anakan yang ada di depan mata.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar